Selamat Datang di Blog MYANTO OFFICIAL, Semoga Bermanfaat Untuk Kita Semuanya! Aamiin
Cintailah kekasihmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi musuhmu. Dan bencilah musuhmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi kekasihmu. Ali bin Abi Thalib
Ciri kelalaian manusia adalah sering mengeluh ketika sedang diuji dan jarang bersyukur ketika mendapatkan nikmat
Halal bukan hanya masalah apa yang kita makan. Tapi juga apa yang kita kenakan dan sayangi.
Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. QS Al-Baqarah 216
Assalamu'alaikum Wr. Wb. ----- SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI MYANTO OFFICIAL - Media Informasi, Komunikasi dan Publikasi ----- Semoga Bermanfaat Untuk Kita Semua!
Showing posts with label Ke-NU-an. Show all posts
Showing posts with label Ke-NU-an. Show all posts

BADAN OTONOM DALAM NAHDLATUL ULAMA

Badan otonom adalah perangkat organisasi Nahdlatul Ulama yang berfunsi melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama yang berkaitan dengan kelompok masyarakat tertentu dan beranggotakan perorangan.
Diantara Badan Otonom yang dimiliki oleh Nahdlatul Ulama adalah sebagai berikut :

1.  Muslimat Nahdlatul Ulama (Muslimat NU)
Muslimat NU lahir pada Muktamar NU ke-15 di Surabaya pada tanggal 15 – 21 Juni 1940 dengan nama Nahdlatul Ulama Muslimat (NUM). Pada wakt itu Muslimat masih menjadi bagian dari NU dan belum berdiri sendiri.

Baru pada Muktamar NU ke-16 di Purwokerto, Jawa Tengah, pada tanggal 26 – 29 Maret 1946, NUM disahkan menjadi organisasi yang berdiri sendiri dan menjadi Badan Otonom (BANOM) Nahdlatul Ulama. Sehingga namanyapun juga berubah menjadi Muslimat Nahdlatul Ulama disingkat menjadi Muslimat NU.

Muslimat NU didirikan dengan tujuan :
1)  Terwujudnya wanita Islam yang bertaqwa kepada Allah SWT, berilmu, beramal, cakap dan bertanggungjawab serta berguna bagi agama, nusa, dan bangsa.
2)  Terwujudnya wanita islam yang sadar akan kewajiban dan haknya menurut ajaran islam, baik secara pribadi maupun sebagaibagian dari anggota masyarakat.
3)  Terlaksananya tujuan jamiyyah Nahdlatul Ulama dikalangan kaum wanita, sehingga terwujud masyarakat adil dan makmur yang merata dan diridlai Allah SWT.

Dalam usaha mencapai tujuannya, Muslimat NU melakukan serangkaian kegiatan antara lain:
1)  Mempelajari dan memperdalam serta mengamalkan ajaran islam ala Ahlisunnah Wal Jamaah dengan sungguh-sungguh dan sebaik-baiknya.
2)  Mempersatukan gerak langkah kaum wanita umumnya dan wanita Nahdlatul Ulama pada Khususnya dalam menciptakan masyarakat adil makmur yang diridlai Allah SWT.
3)  Melaksanakan nilai-nilai budi pakerti utama dalam kehidupan sehari-hari
4)  Meningkatkan kwalitas (mutu), harkat dan martabat wanita Indonesia umumnya dan Muslimat NU Khususnya, guna memperkuat tanggungjawab terhadap agama, bangsa dan negara
5)  Mengusahakan agar wanita Indonesia mumnya dan Muslimat NU khususnya menjadi istri-istri dan ibu-ibu yang baik guna pertumbuhan bangsa yang taat beragama
6)  Bergerak secara aktif dalam lapangan peribadatan, sosial, kesehatan, pendidikan, penerangan atau da’wah, ekonomi dan usaha-usaha kemasyarakatan lainnya
7)  Membina kerjasama dengan badan-badan dan organisasi wanita serta lembaga-lembaga lain.

Muslimat NU mempunyai lambang organisasi yang dilukiskan dalam bentuk sebuah Bola Dunia yang dilingkari tali dikelilingi lima bintang yang terletak di atas garis katulistiwa dan empat bintang yang terletak di bawah garis katulistiwa. Sehingga jumlah bintang seluruhnya berjumlah sembilan buah. Di atasnya tertulis kata “MUSLIMAT”. Sedangkan di ujung tali kiri dan kanan tertulis huruf “NU”. Lambang Muslimat NU berwarna putih di atas dasar hijau, serta terdapat tulisan “Nahdlatul Ulama” dengan huruf arab yang memanjang pada garis katulistiwa.

Dalam organisasi Muslimat NU tingkatan kepemimpinan di atur sebagai berikut:
1.  Pimpinan Pusat (PP) untuk Tingkat Pusat
2.  Pimpinan Wilayah (PW) untuk Tingkat Propinsi
3.  Pimpinan Koordinator Daerah (PKORDA) untuk Tingkat eks Karesidenan
4.  Pimpinan Cabang (PC) untuk Tingkat Kabupaten / Kota
5.  Pimpinan Anak Cabang (PAC) untuk Tingkat Kecamatan
6.  Pimpinan Ranting (PR) untuk Tingkat Kelurahan / Desa

Sedangkan permusyawaratan dalam Muslimat NU terdiri atas:
1.  Kongres dan Rapat Kerja Nsional, untuk tingkat pusat/nasional
2.  Konfrensi Wilayah dan Rapat Kerja Wilayah, untuk tingkat provinsi
3.  Konfrensi cabang dan rapat kerja cabang, untuk tingkat Kabupaten atau Kota
4.  Konfrensi Anak Cabang dan Rapat Kerja Anak Cabang, untuk tingkat Kecamatan
5.  Rapat Anggota untuk tingkat Desa atau Kelurahan.

Disamping itu, Muslimat NU juga mempunyai perangkat-perangkat organisasi lain, seperti :
1.  Yayasan Kesejahteraan Muslimat (YKM), yang merupakan sarana organisasi untuk mewujudkan program-program Muslimat NU dibidang sosial, kesehatan, kependudukan dan lingkungan hidup
2.  Yayasan Bina Bhakti Wanita (YBBW) yang melaksanakan program Muslimat NU dalam bidang pendidikan dan didirikan atas kerja sama dengan Departemen Tenaga Kerja
3.  Himpunan Da’iyah Muslimat NU (HIDMAT NU), yang melaksanakan program Muslimat NU dibidang da’wah, bekerja sama dengan Nahdlatul Ulama.

        Sebagai pedoman berorganisasi, Muslimat NU selain mempunyai Peraturan Dasar  dan Peraturan Rumah Tangga (PDPRT), juga mempunyai pedoman-pedoman lain dalam bentuk Pola Dasar Pengembangan Perjuangan Muslimat NU, yang menyangkut keberadaannya sebagai Khalifah fil ardli, sebagai warga negara Republik Indonesia, maupun sebagai bagian warga nahdliyin. Beberapa pedoman, peraturan dan ketentuan-ketentuan lain yang ada di organisasi Muslimat NU, dimungkinkan setiap kali mengalami perubahan dan pengembangan. Hal ini untuk menyesuaikan dengan tuntutan perjuangan dan perkembangan zaman.

2.  Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor)
Gerakan Pemuda Ansor didirikan pada tanggal 14 Desember 1949 di Surabaya, sebagai kelanjutan dari “ANSHORU NAHDLATUL ULAMA” (ANU) yang didirikan pada tanggal 24 April 1934.
Jika ditelusuri, sejarah kelahiran dan perkembangan GP Ansor tidak bisaa dipisahkan dari sejarah kelahiran Nahdlatul Ulama itu itu sendiri. Pada tahun 1924, di Surabaya berdiri suatu organisasi pmuda yang diberi nama “SYUBBANUL WATHAN” (Pemuda Tanah Air) dibawah pimpinan Abdullah Ubaid. Kegiatan utamanya ialah da’wah keliling, latihan kepemimpinan dan latihan bela diri.

Pada tahun 1930, Syubbanul Wathan melebur diri menjadi “NAHDLATUS SYUBBAN” dan pada tahun 1931 namanya berubah menjadi “PERSATUAN PEMUDA NAHDLATUL ULAMA (PPNU)”. Setahun kemudian, kata “Persatuan” dihilangkan, menjadi Pemuda Nahdlatul Ulama (PNU) dan kemudian berubah lagi menjadi ANSORU NAHDLATUL ULAMA (ANU). Baru pada Muktamar NU ke-9 di Banyuwangi pada tanggal 21 – 26 April 1934 ANU diterima menjadi bagian dari jamiiyah NU.

Selama revolusi fisik, ANU dibekukan. Akan tetapi kemudian muncul ide dari Muhammad Husaini, seorang tokoh ANU dari surabaya, untuk menghidupkan kembali ANU. Dalam pertemuan tersebut, dicapai kesepakatan untuk menghidupkan kembali ANU dengan nama baru yaitu “GERAKAN PEMUDA ANSOR” yang disingkat menjadi GP ANSOR.

Gerakan Pemuda Ansor didirikan dengan tujuan antara lain:
1.  Menyadarkan para pemuda islam akan kewajibannya memperjuangkan cita-cita islam
2.  Meningkatkan mutu pendidikan dan pengajaran
3.  Mempergiat pendidikan rohani dan jasmani dalam rangka mewujudkan masyarakat islam
4.  Membimbing dan membantu tegaknya Kepanduan Ansor
5.  Meningkatkan kerjasama dengan organisasi pemuda lainnya, baik di dalam maupun di luar negeri
6.  Meningkatkan berbagai kegiatan-kegiatan olah raga, kesenian dan kemasyarakatan.

Lambang yang dipakai oleh GP Ansor ialah gambar segi tiga sama sisi dengan garis tebal sebelah luar dan garis tipis sebelah dalam. Di dalamnya terdapat Bulan sabit dengan sembilan bintang yang mengelilinginya, satu diantaranya yang terbesar, terletak di atas bulan sabit dengan lima garis sinar ke atas, tiga ke bawah, dengan tulisan “ANSOR” dibawahnya, dan gambar tersebut terlukis dengan warna putih di atas dasar warna hijau :
Susunan kepengurusan dalam organisasi GP Ansor terdiri atas:
1.  Pimpinan Pusat (PP GP Ansor) di tingkat pusat/nasional
2.  Pimpinan Wilayah (PW GP Ansor) di tingkat Provinsi
3.  Pimpinan Cabang (PC GP Ansor) di tingkat Kabupaten/Kota
4.  Pimpinan Anak Cabang (PAC GP Ansor) di tingkat kecamatan dan
5.  Pimpinan Ranting (PR GP Ansor) di tingkat Desa/Kelurahan.

Didalam organisasi GP Ansor dikenal istilah-istilah untuk forum-forum permusyawaratan sebagai berikut :
1.  Kongres untuk tingkat pusat/PP
2.  Konferensi, untuk tingkat PW/Propinsi, PC/Kabupaten/ Kota, PAC/Kecamatan, dan
3.  Rapat Anggota, untuk tingkat PR/Ranting.
Sebagaimana organisasi yang lain, GP Ansor juga mempunyai perangkat organisasi yang berada di bawah naungannya. Adapun perangkat organisasi dalam GP Ansor yang terpenting ialah BANSER, singkatan dari “Barisan Ansor Serbaguna”. Banser merupakan pasukan yang terlatih yang berfungsi serba guna, terutama dibidang pertahanan dan keamanan, baik untuk kepentingan GP Ansor sendiri, NU maupun masyarakat pada umumnya. Banser mulai didirikan pada tahun 1968, bertepatan dengan Kongres GP Ansor VII di Jakarta.

3.  Fatayat Nahdlatul Ulama
Fatayat NU didirikan pada 7 Rajab 1369 H/ 24 April 1950. Akan tetapi rintisannya sebenarnya sejak 1940. Diantara tokoh perintisnya adalah : murthasiyah (Surabaya), KH.uzaimah Mansur (Gresik), dan Aminah (Sidoarjo). Fatayat NU resmi menjadi Badan Otonom NU setelah disahkan dalam Muktamar NU ke-18, pada tanggal 20 April – 3 Mei 1950 di Jakarta.

Tujuan Fatayat NU adalah:
1.  Membentuk pemudi atau wanita muda islam bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, beramal, cakap, dan bertanggung jawab serta berguna bagi agama, nusa, dan bangsa.
2.  Mewujudkan rasa kesetiaan terhadap asas, aqidah dan tujuan Nahdlatul Ulama dalam menegakkan syariat islam.
3.  Mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang merata serta diridlai Allah SWT.
Untuk mencapai tujuan tersebut di atas, Fatayat NU melakukan serangkaian usaha sebagai berikut:
1.  Menghimpun dan membina pemudi atau wanita muda islam dalam suatu organisasi.
2.  Meningkatkan mutu pendidikan, pengajaran, ketrampilan dan memperluas ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi agama, bangsa, dan negara.
3.  Meningkatkan peranan wanita Indonesia daam segala bidang kehidupan beragama, bernegara dan bermasyarakat.
4.  Mempertinggi budi (aKH.lakul karimah) dalam kehidupan sehari-hari.
5.  Menjalankan kegiatan dan menjalin kerjasama yang menunjang syiar islam dan kesejahteraan masyarakat.
6.  Membina persahabatan dengan organisasi lain, terutama organisasi pemuda dan wanita.
Lambang Fatayat NU adalah setangkai bunga melati tegak di atas dua helai daun, sebuah bintang besar dikelilingi delapan bintang kecil dengan dilingkari tali persatuan. Lambang ini dilukiskan dengan warna putih di atas dasar hijau.
Kepengurusan Fatayat NU terdiri atas  Pucuk Pimpinan (PP), Pimpinan Wilayah (PW), Pimpinan Cabang (PC), Pimpinan Anak Cabang (PAC), Pimpinan Ranting (PR). Kekuasaan tertinggi organisasi dipegang oleh kongres pada tingkat nasional (PP), Konferensi Wilayah pada tingkat wilayah (PW), Konferensi Cabang pada tingkat cabang (PC), Konferensi Anak Cabang pada tingkat anak cabang (PAC) dan Rapat Anggota ditingkat Ranting (PR). Sedangkankeanggotaan Fatayat NU terdiri atas anggota biasa dan anggota luar biasa.

4.  Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU)
Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (disingkat IPNU) adalah badan otonom Nahldlatul Ulama yang berfungsi untuk membantu melaksanakan kebijakan NU pada segmen pelajar dan santri putra. IPNU didirikan di Semarang pada tanggal 20 Jumadil AKH.ir 1373 H/ bertepatan dengan tanggal 24 Pebruari 1954, yaitu pada Konferensi besar (Konbes) LP Ma’arif NU. Pendiri IPNU adalah M. Shufyan Cholil (mahasiswa UGM), H. Musthafa (Solo), Abdul Ghony Farida (Semarang) dan Thalhah Mansur.

Ketua Umum Pertama IPNU adalah M. Tholhah Mansoer yang terpilih dalam Konferensi Segi Lima yang diselenggarakan di Solo pada 30 April-1 Mei 1954 dengan melibatkan perwakilan dari Yogyakarta, Semarang, Solo, Jombang, dan Kediri.
Pada tahun 1988, sebagai implikasi dari tekanan rezim Orde Baru, IPNU mengubah kepanjangannya menjadi Ikatan PelajarNahdlatul Ulama. Sejak saat itu, segmen garapan IPNU meluas pada komunitas remaja pada umumnya. Pada Kongres XIV di Surabaya pada tahun 2003, IPNU kembali mengubah kepanjangannya menjadi “Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama”. Sejak saat itu babak baru IPNU dimulai. Dengan keputusan itu, IPNU bertekad mengembalikan basisnya di sekolah dan pesantren.

Tujuan  IPNU adalah terbentuknya pelajar bangsa yang bertaqwa kepada Allah SWT, berilmu, beraKH.lak mulia dan berwawasan kebangsaan serta bertanggungjawab atas tegak dan terlaksananya syari’at Islam menurut faham ahlussunnah wal jama’ah yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut, dilakukan serangkaian usaha, yaitu :
1.  Menghimpun dan membina putra-putra Nahdlatul Ulama dalam satu wadah organisasi
2.  Mempersiapkan kader-kader intelektual sebagai penerus perjuangan bangsa
3.  Mengusahakan tercapainya tujuan organisasi dengan menyusun landasan perjuangan sesuai dengan perkembangan masyarakat (maslahah al-ammah), guna terwujudnya KH.aira ummah
4.  Mengusahakan jalinan komunikasi dan kerjasama program dengan pihak lain selama tidak merugikan organisasi.

Lambang IPNU berbentuk bulat dengan warna dasar hijau, berlingkar kuning ditepinya dengan diapit dua lingkaran putih. Dibagian atas tercantum huruf IPNU dengan titik diantaranya dengan di apit oleh tiga garis lurus pendek yang satu diantaranya lebih panjang pada bagian kanannya. Semua berwarna putih. Di bawahnya terdapat bintang sembilan, lima terletak sejajar yang satu diantaranya lebih besar terletak di tengah dan empat bintang lainnya terletak mengapit membentuk sudut segitiga. Semua berwarna kuning. Diantara bintang yang mengapit terdapat dua kitab dan dua bulu angsa bersilang berwarna putih.
Struktur organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) terdiri atas :
1.  Pimpinan tertinggi IPNU di ibu kota Negara disebut Pimpinan Pusat IPNU (PP IPNU)
2.  Pimpinan IPNU di provinsi disebut Pimpinan Wilayah IPNU (PW IPNU)
3.  Pimpinan IPNU di kabupaten/kota disebut Pimpinan Cabang IPNU (PC IPNU)
4.  Pimpinan IPNU di kecamatan disebut Pimpinan Anak Cabang IPNU (PAC IPNU)
5.  Pimpinan IPNU di desa/kelurahan disebut Pimpinan Ranting IPNU (PR IPNU)
6.  Pimpinan IPNU di Lembaga Pendidikan perguruan tinggi, pondok pesantren, SLTP/MTs, SLTA/MA dan yang sederajat disebut Pimpinan Komisariat IPNU (PK IPNU).
Kekuasaan tertinggi organisasi dipegang oleh kongres pada tingkat nasional, Konferensi wilayah pada tingkat wilayah, Konferensi Cabang pada tingkat Cabang, Konferensi Anak Cabang pada tingkat anak cabang dan Rapat Anggota pada tingkat Ranting. Sedangkan keanggotaan IPNU terdiri atas anggota biasa dan anggota istimewa.

5.  Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU)
Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) adalah salah satu organisasi remaja yang menghimpun Pelajar Putri NU. Organisasi ini didirikan pada tanggal 8 Rajab 1374 H atau bertepatan dengan tanggal 2 Maret 1955 di Solo, Jawa Tengah. Salah seorang pendirinya adalah Ny. Umrah Mahfudha. Semula organisasi ini merupakan bagian dari lembaga pendidikan maarif, tetapi semenjak kongres di Surabaya pada tahun 1966, IPPNU melepaskan diri dari LP. Maarif dan menjadi salah satu badan otonom Nahdlatul Ulama.
Sebagai bagian dari badan otonom Nahdlatul Ulama, IPPNU mempunyai tiga fungsi utama, yaitu :
1.    Sebagai wadah berhimpun Pelajar Putri NU untuk melanjutkan semangat jiwa dan nilai-nilai ke-NU-an.
2.    Sebagai wadah komunikasi Pelajar Putri NU untuk menggalang uKH.uwah islamiyah dan syiar islam.
3.    Sebagai wadah kaderisasi Pelajar Putri NU untuk mempersiapkan kaderisasi bangsa.
Dari ketiga fungsi di atas, maka tujuan IPPNU adalah :
1.      Terbentuknya kesempurnaan putri Indonesia yang beraKH.lakul karimah, dan bertaqwa kepada Allah SWT.
2.      Tegak dan berkembangnya syariat islam menurut faham Ahlus-sunnah wal jamaah
3.      Terbentuknya kader bangsa yang berilmu dan berwawasan nasional
4.      Terbentuknya masyarakat Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut di atas, IPPNU melakukan usaha-usaha seperti :
1.    Menghimpun dan membina Pelajar Putri islam dalam wadah organisasi.
2.    Mempersiapkan kader-kader intelektual sebagai proses perjuangan bangsa.
3.    Mengusahakan tercapainya tujuan organisasi dengan menyusun landasan perjuangan sesuai dengan perkembangan masyarakat.
4.    Membina persahabatan dengan organisasi putri islam pada Khususnya dan organisasi lain pada umumnya selama tidak merugikan kepentingan organisasi IPPNU.

Lambang organisasi IPPNU berbentuk segitiga sama kaki dengan ukuran alas sama dengan tinggi. Warna dasarnya hijau, bergaris dua warna kuning di tepinya. Isi lambang terdiri atas: Bintang sembilan. Satu diantaranya di tengah, empat buah menurun di sisi sebelah kiri dan empat buah lainnya di sisi sebelah kanan dan semuanya berwarna kuning. Di bawah bintang terdapat dua buah kitab dan dua buah bulu ayam bersilang dengan warna putih. Di bawah blu ayam terdapat tulisan IPPNU dengan lima titik di antaranya dan dilukis dengan warna putih.
Struktur organisasi Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) terdiri atas :
1.  Pimpinan tertinggi IPNU di ibu kota Negara disebut Pucuk Pimpinan IPPNU (PP IPPNU)
2.  Pimpinan IPPNU di provinsi disebut Pimpinan Wilayah IPPNU (PW IPPNU)
3.  Pimpinan IPPNU di tingkat kabupaten/kota disebut Pimpinan Cabang IPPNU (PC IPPNU)
4.  Pimpinan IPPNU di kecamatan disebut Pimpinan Anak Cabang IPPNU (PAC IPPNU)
5.  Pimpinan IPPNU di desa/kelurahan disebut Pimpinan Ranting IPPNU (PR IPPNU)
6.  Pimpinan IPPNU di Lembaga Pendidikan perguruan tinggi, pondok pesantren, SLTP/MTs, SLTA/MA dan yang sederajat disebut Pimpinan Komisariat IPPNU (PK IPPNU).
Kekuasaan tertinggi organisasi dipegang oleh kongres pada tingkat nasional, Konferensi wilayah pada tingkat wilayah, Konferensi Cabang pada tingkat Cabang, Konferensi Anak Cabang pada tingkat anak cabang dan Rapat Anggota pada tingkat Ranting. Sedangkan keanggotaan IPNU terdiri atas anggota biasa dan anggota istimewa.

B.   Badan Otonom Nahdlatul Ulama yang Berbasis Profesi dan Kekhususan
Diantara badan otonom yang dimiliki oleh Nahdlatul Ulama dalam bidang yang berbasis profesi dan kekhususan adalah:
1.    Jam’iyyah Ahlit Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyah.
2.    Jam’iyyatul Qurro’ wal huffadz
3.    Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU)
4.    Serikat Buruh Muslimin Indonesia (SARBUMUSI)
5.    Pagar Nusa Nahdlatul Ulama (PN NU)
6.    Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU).


Sumber : Buku Mapel Aswaja SMP/MTs, SMA/MA dan berbagai sumber
comments | | Baca Selengkapnya...

KEPENGURUSAN NAHDLATUL ULAMA

A.   Tingkat Kepengurusan NU
Tingkat kepengurusan dalam organisasi Nahdlatul Ulama terdiri atas Pengurus Besar (PB) untuk tingkat pusat, Pengurus Wilayah (PW) untuk tingkat propinsi, Pengurus Cabang (PC) untuk tingkat Kabupaten/Kota. Pengurus Cabang Istimewa (PCI) untuk tingkat kepengurusan di luar negeri, Pengurus Wakil Cabang (MWC) untuk tingkat Kecamatan, Pengurus Ranting (PR) untuk tingkat Desa/Kelurahan dan pengurus anak ranting (PARNU).

1.   Pengurus Besar NU (PBNU)
Pengurus besar merupakan kepengurusan organisasi Nahdlatul Ulama ditingkat pusat dan berkedudukan di Ibu kota negara Republik Indonesia. Pengurus besar merupakan penanggung jawab kebijaksanaan dalam pengendalian organisasi dan pelaksanaan keputusan-keputusan muktamar.

2.   Pengurus Wilayah NU (PWNU)
Pengurus Wilayah adalah kepengurusan ditingkat Porpinsi yang berkedudukan di Ibu kota Propinsi.
Pengurus Wilayah dapat dibentuk, jika terdapat sekurang-kurangnya 5 (lima) Cabang, dan permintaan pembentukannya disampaikan kepada Pengurus Besar disertai keterangan tentang daerah yang bersangkutan dan jumlah cabangnya, setelah melalui masa percobaan 3 bulan. Pengesahan Pengurus Wilayah dikeluarkan oleh Pengurus Besar.
Pengurus Wilayah berfungsi sebagai koordinator cabang-cabang di daerahnya dan sebagai pelaksana kebijakan Pengurus Besar untuk daerahnya dan keputusan-keputusan Konferensi Wilayah.

3.   Pengurus Cabang NU (PCNU)
Pengurus Cabang adalah kepengurusan organisasi Nahdlatul Ulama ditingkat kabupaten/kota yang berkedudukan ibu kotanya. Sedangkan Pengurus Cabang di luar negeri kedudukannya ditetapkan oleh pengurus besar. Begitu juga dalam keadaan khusus Pengurus Besar dapat membentuk Pengurus Cabang di luar ketentuan diatas karena besarnya penduduk, luasnya daerah, sulitnya komunikasi, atau karena faktor kesejarahan.
Pengurus Cabang dapat dibentuk jika terdapat sekurang-kurangnya 3 Majelis Wakil Cabang, dan permintaan pembentukannya disampaikan kepada Pengurus Besar, yang dikuatkan oleh Pengurus Wilayah dengan masa percobaan selama 3 bulan. Pengesahan susunan Pengurus Cabang dikeluarkan oleh  oleh Pengurus Besar setelah mendapat persetujuan dari Pengurus Wilayah.
Pengurus Cabang memipin dan mengkoordinir Majelis Wakil Cabang dan Ranting-ranting di daerahnya dan melaksanakan kebijakan Pengurus Wilayah dan Pengurus Besar untuk daerahnya serta keputusan-keputusan Konferensi Cabang.

4.   Pengurus Cabang Istimewa (PCINU)
Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU adalah kepengurusan yang berada di luar negeri. Pembentukan Pengurus Cabang Istimewa (PCI) Nahdlatul Ulama dilakukan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) atas permohonan sekurang-kurangnya 40 orang anggota.

5.   Pengurus Majlis Wakil Cabang (MWCNU)
Pengurus MWC adalah tingkat kepengurusan organisasi  Nahdlatul Ulama ditingkat kecamatan atau daerah yang disamakan dengannya.
Majelis Wakil Cabang dapat dibentuk jika sekurang-kurangnya terdapat 4 ranting dan pembentukannya disampaikan kepada Pengurus Wilayah yang dikuatkan oleh Pengurus Cabang  masa percobaan selama 3 bulan. Pengesahan susunan Pengurus Wakil Cabang dikeluarkan oleh oleh Pengurus Wilayah setelah mendapatkan persetujuan dari Pengurus Cabang.

Pengurus Majelis Wakil Cabang mengkoordinir Ranting-ranting di daerahnya dan melaksanakan kebijakan Pengurus Cabang  dan serta keputusan-keputusan Konferensi Majlis Wakil Cabang.

6.   Pengurus Ranting NU (PRNU)
Pengurus Ranting ialah tingkat kepengurusan organisasi Nahdlatul Ulama di tingkat Desa/Kelurahan atau daerah yang disamakan dengannya. Dan apabila dipandang perlu karena keadaan daerah atau penduduknya, maka dalah satu desa/kelurahan dapat dibentuk lebih dari satu Ranting.
Pengurus Ranting dapat dibentuk jika sekurang-kurangnya terdapat 15 anggota. Dan penetapan pembentukannya disampaikan kepada Pengurus Cabang dengan dikuatkan oleh Pengurus Wakil Cabang, setelah melalui masa percobaan 3 bulan.
Pengesahan Susunan Pengurus Ranting dikeluarkan oleh Pengurus Cabang setelah mendapat persetujuan Pengurus Majelis Wakil Cabang.
Pengurus Ranting memimpin dan membina anggota-anggota Nahdlatul Ulama di daerahnya dan melaksanakan kebijaksanaan Pengurus Cabang dan Majelis WakilCabang untuk daerahnya serta keputusan-keputusan rapat anggota.

7.   Pengurus Anak Ranting NU (PARNU)
Pengurus Anak Ranting ialah tingkat kepengurusan organisasi Nahdlatul Ulama di tingkat perdukuhan,lingkungan, majlis ta’lim.
Pengurus Anak Ranting Nahdlatul Ulama dapat dibentuk jika sekurang-kurangnya terdapat 25 anggota. Dan penetapan pembentukannya diusulkan oleh anggota melalui Ranting kepada Pengurus Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama.

Pembentukan anak ranting Nahdlatul Ulama diputuskan oleh Pengurus Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama melalui rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah.
Pengurus Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama mengeluarkan Surat Keputusan setelah melalui percobaan selama 3 (tiga) bulan.


Sumber : Buku Mapel Aswaja SMP/MTs, SMA/MA dan berbagai sumber
comments | | Baca Selengkapnya...

PENDIRI NAHDLATUL ULAMA - Bagian 4

D.  KH.Bisyri Syamsuri
KH. Bisyri Syamsuri dilahirkan di desa Tayu, Pati, Jawa Tengah pada 28 Dzul Hijjah 1304 bertepatan dengan 18 September 1886 M. Beliau adalah putra ketiga dari pasangan suami istri Kyai Syamsuri dan Nyai Mariah. Pada usia tujuh tahun KH. Bisyri Syamsuri mulai belajar agama secara teratur yang diawali dengan belajar membaca Al Qur'an secara mujawwad (dengan bacaan tajwid yang benar) pada Kyai Shaleh di desa Tayu. Pelajaran membaca Al Qur'an ini ditekuninya sampai beliau berusia sembilan tahun. Kemudian beliau melanjutkan pelajarannya ke pesantren Kajen. Guru beliau bernama Kyai Abdul Salam, seorang Huffadz yang juga terkenal penguasaannya di bidang Fiqih. Dibawah bimbingan ulama ini beliau mempelajari dasar-dasar tata bahasa Arab, fiqih, tafsir, dan hadits.

Pada usia lima belas tahun KH. Bisyri Syamsuri berpindah pesantren lagi, belajar pada Kyai Khalil di Demangan Bangkalan. Kemudian pada usia 19 tahun beliau meneruskan pelajarannya ke pesantren Tebuireng Jombang. Dibawah bimbingan KH. Hasyim Asy'ari beliau mempelajari berbagai ilmu agama Islam. Kecerdasan dan ketaatan beliau menyebabkan tumbuhnya hubungan yang sangat erat antara beliau dengan hadratus Syaikh. untuk masa-masa selanjutnya.

Setelah enam tahun lamanya belajar di Tebuireng, pada usia 24 tahun beliau berangkat melanjutkan pendidikan ke Makkah. Beliau bersahabat dengan KH. Abdul Wahab Hasbullah sejak di pesantren Kademangan sampai di tanah suci Makkah. Ketika Adik KH. Abdul Wahab Hasbullah yang bemama Nur Khadijah menunaikan ibadah haji bersama ibunya pada tahun 1914, KH. Abdul Wahab Hasbullah menjodohkan adiknya dengan KH. Bisyri Syamsuri, dan pada tahun itu juga beliau pulang ke tanah air.

Kepulangan ke tanah air itu membawa beliau kepada pilihan untuk kembali ke Tayu atau menetap di Tambakberas. Atas permintaan keluarga Nur Khadijah, beliau menetap di Tambakberas Jombang. Setelah dua tahun menetap dan membantu mengajar di Pesantren Tambakberas, pada tahun 1917 beliau pindah ke desa Denanyar. Di tempat ini beliau bertani sambil mengajar, yang kemudian berkembang menjadi sebuah pesantren. Semula pesantren ini hanya mendidik santri laki-laki, tetapi pada tahun 1919 beliau mencoba membuka pengajaran Khusus bagi para santri wanita. Percobaan ini temyata mempunyai pengaruh bagi perkembangan pesantren, khususnya di JawaTimur. Karena sebelumnya memang tidak pernah ada pendidikan khusus untuk santri putri.

KH. Bisyri Syamsuri termasuk salah seorang ulama yang ikut mengambil bagian dalam kelahiran Nahdlatul Ulama dan selama hidupnya selalu mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk kebesaran Nahdlatul Ulama. Beliau juga dikenal sebagai pejuang yang dengan gigih menentang penjajahan Belanda dan Jepang. Pada masa perang kemerdekaan beliau ikut terjun di medan tempur melawan tentara Belanda dan menjabat sebagai ketua Markas Pertahanan Hizbullah-Sabilillah di Jawa Timur, merangkap sebagai wakil ketua Markas Ulama Jawa timur yang dipimpin oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah.

KH. Bisyri Syamsuri adalah seorang ulama besar yang memiliki sifat sederhana dan rendah hati. Meskipun demikian beliau dikenal sebagai ulama yang teguh pendirian dan memegang prinsip. Dalam menjalankan tugas beliau selalu istiqamah dan tidak mudah goyah, terutama dalam memutuskan suatu perkara yang berhubungan dengan syari'at Islam. setiap hukum suatu persoalan yang sudah Jelas dalilnya dari Al Quran, Hadits, Ijma atau Qiyas keputusan beliau selalu tegas dan tidak bisa ditawar-tawar.

Di dalam kepengurusan NU semula beliau menjadi salah seorang a'wan syuriyah. Pada Muktamar NU ke-13 tahun 1950 beliau diangkat sebagai salah seorang Rais Syuriyah. Kemudian setelah KH. Abdul Wahab Hasbullah wafat pada tahun 1971 Musyawarah Ulama secara bulat memilih beliau menjadi Rais Am PBNU sampai beliau wafat pada hari Jum'at 25 April 1980 dalam usia 94 tahun. Makam beliau berada di komplek Pondok Pesantren Manbaul Maarif Denanyar Jombang, Jawa Timur.

1.    Perintis Kesetaraan Gender
Rasanya tidak berlebihan kalau Kyai Bisri Syamsuri disebut sebagai pejuang kesetaraan gender, khususnya di kalangan pesantren. Kyai Bisrilah orang pertama yang mendirikan kelas khusus untuk santri-santri wanita di pesantren yang didirikannya. Walalupun baru diikuti perempuan-perempuan di desanya.
Di zaman yang masih kental dengan nilai-nilai patrimonial waktu itu, apa yang dilakukan Kyai Bisri termasuk kategori “aneh“. Untung sang guru yang sangat dihormatinya, hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari tidak menentang terobosan yang dilakukannya. Kalau saja hadratus Syaikh melarang, niscaya Kyai Bisri Syamsuri tidak akan melanjutkan langkah fenomenal yang telah dibuatnya. Hal ini semata-mata karena takdzimnya yang begitu mendalam kepada sang guru yang selalu dipanggilnya “kyai“.

2.    Ahli dan Pecinta Fiqh
Karakter sebagai pecinta Fiqh terbentuk ketika Kyai Bisri nyantri kepada KH Kholil Bangkalan, dan semakin menguat setelah nyantri di Tebuireng. Kyai Bsiri memang sengaja mendalami pokok-pokok pengambilan hukum agama dalam fiqh, terutama literatur fiqh lama.
Tidak mengherankan jika Kyai Bisri begitu kukuh dalam memegangi kaidah-kaidah hukum fiqh, dan begitu teguh dalam mengkontekstualisasikan fiqh kepada kenyataan-kenyataan hidup secara baik. Walaupun begitu, Kyai Bisri tidak kaku dan kolot dalam berinteraksi dengan masyarakat. Hal itu setidaknya terlihat dari upayanya dalam merintis pesantren yang dibangunnya di Denanyar.

3.    Politisi Tangguh
Persinggungannya dengan politik praktis diawali ketika bergabung dengan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) mewakili Masyumi, menjadi anggota Dewan Konstituante dan puncaknya ketika dipercaya menjadi Ketua Majelis Syuro PPP ketika NU secara formal tergabung dalam partai berlambang ka’bah itu.
Salah satu prestasi yang paling mengesankan, ketika Kyai Bisri Syamsuri berhasil mendesakkan disyahkannya UU perkawinan hasil rancangannya bersama-sama ulama NU. Padahal sebelumnya pemerintah sudah membuat rancangan undang-undang perkawinan ke Dewan Perwakilan Rakyat.

Kini, masyarakat merindukan kembali hadirnya seorang “kyai plus“ seperti KH. Bisri Syamsuri. Kapankah kerinduan itu terobati.


Sumber : Buku Mapel Aswaja SMP/MTs, SMA/MA dan berbagai sumber
comments | | Baca Selengkapnya...

PENDIRI NAHDLATUL ULAMA - Bagian 3

C. KH. Abdul Wahab Hasbullah
KH. Wahab Hasbullah merupakan seorang ulama besar Indonesia. Beliau lahir pada bulan Maret 1888, di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur dan wafat pada 29 Desember 1971. Beliau merupakan seorang ulama yang menekankan pentingnya kebebasan dalam keberagamaan terutama kebebasan berpikir dan berpendapat. Untuk itu kyai Wahab membentuk kelompok diskusi Tashwirul Afkar (Pergolakan Pemikiran) di Surabaya pada 1941.

Mula-mula kelompok ini mengadakan kegiatan dengan peserta yang terbatas. Tetapi berkat prinsip kebebasan berpikir dan berpendapat yang diterapkan dan topik-topik yang dibicarakan harus mempunyai jangkauan kemasyarakatan yang luas, dalam waktu singkat kelompok ini menjadi sangat populer dan menarik perhatian di kalangan pemuda. Banyak tokoh Islam dari berbagai kalangan bertemu dalam forum itu untuk mendebatkan dan memecahkan permasalahan pelik yang dianggap penting.

Tashwirul Afkar tidak hanya menghimpun kaum ulama pesantren. Ia juga menjadi ajang komunikasi dan forum saling tukar informasi antar tokoh nasionalis sekaligus jembatan bagi komunikasi antara generasi muda dan generasi tua. Karena sifat rekrutmennya yang lebih mementingkan progresivitas berpikir dan bertindak, maka jelas pula kelompok diskusi ini juga menjadi forum pengkaderan bagi kaum muda yang gandrung pada pemikiran keilmuan dan dunia politik.

Bersamaan dengan itu, dari rumahnya di Kertopaten, Surabaya, Kyai Wahab bersama KH. Mas Mansur menghimpun sejumlah ulama dalam organisasi Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) yang mendapatkan kedudukan badan hukumnya pada 1916. Dari organisasi inilah Kyai Wahab mendapat kepercayaan dan dukungan penuh dari ulama pesantren yang kurang-lebih sealiran dengannya. Di antara ulama yang berhimpun itu adalah Kyai Bisri Syamsuri Jombang, Kyai Abdul Halim Leimunding, Cirebon, Kyai Haji Alwi Abdul Aziz, Kyai Ma'shum dan Kyai Cholil Lasem.

Kebebasan berpikir dan berpendapat yang dipelopori kyai Wahab dengan membentuk Tashwirul Afkar merupakan warisan terpenting kyai Wahab kepada kaum muslim Indonesia. Kyai Wahab telah mencontohkan kepada generasi penerusnya bahwa prinsip kebebasan berpikir dan berpendapat dapat dijalankan dalam nuansa keberagamaan yang kental. Prinsip kebebasan berpikir dan berpendapat tidak akan mengurangi ruh spiritualisme umat beragama dan kadar keimanan seorang muslim. Dengan prinsip kebebasan berpikir dan berpendapat, kaum muslim justru akan mampu memecahkan problem sosial kemasyarakatan dengan pisau analisis keislaman. Kini, di tengah nuansa keberagamaan masyarakat yang terjebak pada dogmatisme, kita merindukan hadirnya kembali sosok kyai Wahab Hasbullah dengan Tashwirul Afkar-nya yang telah mencerahkan dan mencerdaskan umat dengan prinsip kebebasan berpikirnya.

1.  Pemikir dan Pejuang
Sepulang dari Mekkah, Wahab dinikahkan dengan putri kiai Musa, Maimunah. Setelah menikah, Wahab menetap di Kertopaten Surabaya serta mulai aktif di kegiatan kemasyarakatan. Bukan Wahab jika tak gelisah saat melihat kenyataan sosial waktu itu, apalagi Indonesia dalam "cengkraman" penjajah Belanda. Kiai Wahab lalu berpikir keras bagaimana caranya menyumbangkan pikiran untuk memperbaiki keadaan. Dari sinilah, Wahab bersama Kiai Mas Mansur, kawan mengaji di Mekkah kemudian membentuk kelompok diskusi Tashwirul Afkar (Pergolakan Pemikiran) di Surabaya (1914)

Awalnya, kelompok ini hanya mengadakan kegiatan dengan peserta terbatas. Tapi berkat prinsip kebebasan yang diterapkan dan topik yang dibicarakan menjangkau lingkup kemasyarakatan, dalam waktu singkat kelompok yang didirikan bersama Mas Mansyur ini sudah sangat populer dan menarik perhatian di kalangan pemuda. Bahkan tak sedikit tokoh Islam dari berbagai kalangan bertemu di forum ini membicarakan permasalahan pelik yang dianggap penting (urgen) untuk dibahas.

Selain membidani lahirnya Tashwirul Afkar, masih bersama Mas Mansur, Wahab menghimpun ulama dalam organisasi Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air). Dari organisasi yang memiliki badan hukum 1916 ini, Wahab mendapat restu dari ulama, di antara adalah kiai M. Bisri Syamsuri Jombang, kiai Abdul Halim Leimunding, Cirebon, kiai H. Alwi Abdul Aziz, kiai Ma'shum dan kiai Cholil Lasem.

Adapun untuk menampung aspirasi kalangan pemudanya, disediakan wadah Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air) yang didirikan tahun 1924, yang di dalam wadah itu ada nama Abdullah Ubaid. Organisasi ini, kemudian menjadi cikal bakal Gerakan Pemuda Ansor yang berdiri tahun 1934. Dalam kelompok ini, Wahab mulai memimpin dan menggerakkan gelora pemikiran berdasarkan paham agama dan jiwa nasionalisme. Rupanya, duet Wahab-Mas Mansur tidak sehaluan terus. Akhirnya, retak dan keduanya pun berpisah. Jika tidak, mungkin "jalan sejarah" ormas Islam atau lebih besar lagi umat Islam Indonesia akan "berbicara lain". Tetapi, kemunduran Mas Mansur tak menjadikan Wahab patah arang. Jiwanya yang bebas, selalu ingin mencari penyelesaian masalah, menjadikan Wahab melakukan kontak dengan tokoh-tokoh pergerakan dan keagamaan. Karena itu, saat kaum pelajar Surabaya mendirikan Islam Studie Club, yang banyak dihadiri kaum pergerakan, Wahab tak menyia-nyiakan kesempatan. Dari forum inilah, Wahab akhirnya berkawan akrab dengan Dr. Soetomo.

Sudah jadi hal umum dan lumrah jika di dalam sebuah organisasi selalu ada gesekan. Demikian juga dalam Tashwirul Afkar, Nahdlatul Wathan, Syubbanul Wathan, maupun Islam Studie Club solidaritas di mana Wahab berada dalam ruang dan lingkup organisasi tersebut. Kendati demikian Wahab bersikap terbuka. Setidaknya, di situlah perjuangan kiai Wahab diasah sehingga tak membuat kiai satu ini tergilas zaman.

2.  Mendirikan NU
Tanggal 31 Januari 1926, di Surabaya tokoh-tokoh Komite Hijaz, di antaranya adalah kiai Wahab, kiai M. Bisri Syamsuri, kiai Ridwan (Semarang), kiai Haji Raden Asnawi Kudus, kiai Nawawi Pasuruan, kiai Nachrowi Malang, serta kiai Alwi Abdul Aziz Surabaya mengadakan urun rembuk. Dari hasil itu, disimpulkan dua hal pokok.
Pertama, mengirimkan delegasi ke Kongres Dunia Islam di Mekkah untuk meminta kepada Raja Saud supaya hukum-hukum menurut mazhab 4; Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hambali tetap mendapat perlindungan dan kebebasan dalam wilayah serta kekuasaan raja.

Kedua, membentuk jam'iyah bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) yang bertujuan menegakkan syariat Islam yang berhaluan ke salah satu empat mazhab. Adapun nama "Nahdlatul Ulama" itu merupakan usulan dari KH. Alwi Abdul Aziz. Pada saat penyusunan kepengurusan, kiai Wahab tak bersedia menduduki jabatan Rois Akbar. Wahab merasa cukup untuk sebuah jabatan Katib 'Am (Sekretaris Umum) Syuriah. Sedang jabatan tertinggi organisasi baru ini diserahkan kepada KH. Hasyim Asy'ari, sedangkan Presiden (Ketua) Tanfidziyah dipegang Hasan Gipo. Itulah, kiprah Wahab dalam memberi sumbangan saat Nahdlatul Ulama lahir.

Sedang di masa awal kemerdekaan, Wahab bersama kalangan pergerakan lain, seperti Ki Hajar Dewantoro, Dr. Douwes Dekker, dan Dr Rajiman Wedyodiningrat duduk dalam Dewam Pertimbangan Agung, lalu berkali-kali duduk di kursi parlemen sampai akhir hayatnya pada 1971. Peran cukup menonjol dari kiai Wahab dalam hal ini sebagai negosiator antara pihak NU dan pemerintah. Sebagai seorang negosiator, wajar saja jika Wahab kemudian sangat dekat dengan presiden dan pejabat tinggi lainnya.

Gebrakan lain di tubuh intern NU, ketika bersama-sama tokoh muda lainnya, seperti; kiai Wahid Hasyim dan Idham Chalid menjadikan NU sebagai partai politik untuk bersaing dengan partai lain, yang lebih dahulu mapan dalam gelanggang politik. Usul kiprah NU sebagai partai itu diterima secara bulat dalam Muktamar NU 1952.

Karena itu, tak lama kemudian dalam Pemilu 1955, NU ikut pemilu dan berhasil mengukir sejarah. Sebab NU keluar sebagai salah satu partai besar di samping PKI, PNI dan Masyumi. Memang, Wahab bukan satu-satunya tokoh penting dalam membesarkan NU, tapi peranan Wahab cukup menonjol. Apalagi, Wahab dikenal kompeten sebagai pengatur strategi perjuangan NU yang piawai dalam pergolakan, dari pembentukan MIAI (Majelis Islam A'la Indonesia), GAPPI (Gabungan Partai Politik Indonesia), Masyumi sampai NU keluar dari partai Islam itu. Di sini, Wahab terlibat pergumulan dengan tokoh-tokoh, seperti Mas Mansur, Dr. Sukiman, Abikusno Cokrosuyoso, Mr. Sartono, Sukarjo Wiryopranoto, Amir Syarifuddin dan lain-lain.

3. Membangun Tradisi Jurnalistik di NU
Apakah kiprah Wahab cuma sampai di situ? Ternyata tidak! Sebab, bukan sosok kiai Wahab kalau tak selalu memutar otak, gelisah ketika punya cita-cita brilian namun belum bisa terwujud. Karena itu, saat NU belum berkiprah di dunia percetakan dan jurnalistik, kiai Wahab bersama tokoh-tokoh NU lain, membeli sebuah percetakan, serta gedung untuk dijadikan pusat aktivitas NU, yang terletak di Jalan Sasak 23 Surabaya.
Dari gedung ini, dirintis tradisi jurnalistik modern dalam NU. Semua ini semata-mata dilandasi pemikiran Wahab yang sebenarnya amat sederhana, yaitu bagaimana menyebarkan gagasan NU agar secara lebih efektif dan efisien bisa diterima umat, sebab selama itu kiprah dakwah dan penyebaran gagasan dan pemikiran di tubuh NU hanya dijalankan melalui "dakwah panggung" dan pengajaran di pesantren-pesantren.

Dari percetakan itu, dalam waktu berikutnya terbitlah majalah tengah bulanan dengan nama Suara Nahdlatul Ulama. Hampir selama tujuh tahun, majalah satu ini dipimpin oleh kiai Wahab. Dari teknis redaksional majalah ini, lalu disempurnakan kiai Mahfudz Siddiq, menjadi Berita Nahdlatul Ulama. Di samping itu, terbit pula Suluh Nahdlatul Ulama di bawah asuhan Umar Burhan. Tidak cuma itu, sebab masih ada Terompet Ansor yang dipimpin Tamyiz Khudlory dan majalah bahasa Jawa Penggugah, dipimpin kiai Raden Iskandar yang setelah itu digantikan oleh Saifuddin Zuhri.

Tak dapat diingkari, dari kiprah beberapa penerbitan di atas kemudian dalam sejarah dan tradisi kepenulisan di NU, boleh dikata telah melahirkan jurnalis-jurnalis, seperti Asa Bafaqih, Saifuddin Zuhri serta Mahbub Junaidi. Juga, NU sendiri memiliki surat kabar prestisius seperti Duta Masyarakat.

Karena itu, sekali lagi, posisi dan peran kiai Wahab dalam NU adalah memegang andil besar karena meletakkan dasar-dasar organisasi NU dalam hampir semua sektor; dari mulai tradisi intelektual, peletak dasar struktur Syuriah dan Tanfidziyah di NU, jurnalistik sampai siasat bertempur di "medan perang".

Mungkin benar yang pernah diucapkan oleh kiai Wahab, yang sampai sekarang masih populer, "Kalau kita mau keras harus punya keris." Keris dalam hal ini diibaratkan sebagai suatu kekuatan. Kekuatan di sini, tentu saja tak hanya kekuatan dari segi fisik, melainkan kekuatan politik, militer dan juga kekuatan mental (batin). Sebab kita semua tahu, tanpa "kekuatan", apa artinya sebuah cita-cita?

4.  Hidup dalam Tiga Zaman
Sebagai seorang kiai yang multidimensional, kiai Wahab dicatat sempat hidup dalam 3 era, zaman pergerakan kemerdekaan, zaman sesudah proklamasi kemerdekaan (Orla) dan zaman Orde Baru. Sepanjang tiga zaman itu, Wahab merasakan bagaimana pahit dan getirnya hidup, terutama di zaman penjajahan. Toh, Wahab dikenal sebagai seorang kiai yang memiliki kharisma, namun tidak lepas juga dari ejekan, fitnah dan hinaan. Di samping itu, tentu saja sanjungan dan kehormatan.

Hampir sepanjang hidup kiai satu ini, perhatian, pemikiran, harta dan tenaga, sepenuhnya dicurahkan untuk mewujudkan cita-cita Islam dan bangsa Indonesia ini melalui NU. Tak heran kalau, demi takjim dan pengabdian penuh itulah, kiai Wahab bahkan tidak pernah absen dalam Muktamar NU selama 25 kali.

Karena itu, meski sedang sakit, kiai Wahab masih berkeinginan bisa menghadiri Muktamar ke-25 di Surabaya dan berharap besar memberikan suaranya bagi partai NU dalam pemilu tahun 1971. Keinginan itu ternyata dikabulkan Allah. Dan, sekali lagi dalam Muktamar Surabaya, kiai kondang ini terpilih sebagai Rois 'Am PB Syuriah NU.

Tetapi, empat hari kemudian, setelah Muktamar Surabaya, ulama yang banyak berjasa dalam organisasi NU serta terhadap bangsa Indonesia ini, dipanggil Allah, tepat tanggal 29 Desember 1971. Tentunya, tak ada kata yang pantas untuk melepaskan kepergian kiai satu ini, selain kesedihan serta rasa kehilangan dan ketakjiman. Lebih dari itu, yang lebih penting adalah "acuan" bagi umat NU untuk meneladani kiprah dan perjuangan yang pernah dilakukan dan diukir sepanjang hidupnya. Sebuah kiprah mulia yang tidak sia-sia untuk diteladani.


Sumber : Buku Mapel Aswaja SMP/MTs, SMA/MA dan berbagai sumber
comments | | Baca Selengkapnya...

PENDIRI NAHDLATUL ULAMA - Bagian 2

B. KH. Hasyim Asy’ari

KH. Hasyim Al Asy’ari adalah seorang ulama pendiri Nahdlatul Ulama (NU), organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia. Ia juga pendiri pesantren Tebuireng, Jawa Timur dan dikenal sebagai tokoh pendidikan pembaharu pesantren.
Selain mengajarkan agama dalam pesantren, ia juga mengajar para santri-santri membaca buku-buku ilmu pengetahuan umum, berorganisasi, dan berpidato. Karya dan jasa Kiai Hasyim Asy’ari tidak lepas dari nenek moyangnya yang secara turun-temurun memimpin pesantren. Ayahnya bernama Kiai Asyari, pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Ibunya bernama Halimah. Dari garis ibu, Kiai Hasyim Asy’ari merupakan keturunan Raja Brawijaya VI, yang juga dikenal dengan Lembu Peteng, ayah Jaka Tingkir yang menjadi Raja Pajang (keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir).

1.  Kelahiran Dan Masa Kecil
Tidak jauh dari jantung kota Jombang ada sebuah dukuh yang bernama Ngedang Desa Tambak Rejo yang dahulu terdapat Pondok Pesantren yang konon pondok tertua di Jombang, dan pengasuhnya Kiai Usman. Beliau adalah seorang kiai besar, alim dan sangat berpengaruh, istri beliau Nyai Layyinah dan dikaruniai enam anak:
1)      Halimah (Winih)
2)      Muhammad
3)      Leler
4)      Fadli
5)      Arifah

Halimah kemudian dijodohkan dengan seorang santri ayahandanya yang bernama Asy’ari, ketika itu Halimah masih berumur 4 tahun sedangkan Asy’ari hampir beruisa 25 tahun. Mereka dikarunia 10 anak:
1)  Nafi’ah
2)  Ahmad Saleh
3)  Muhammad Hasyim
4)  Radiyah
5)  Hasan
6)  Anis
7)  Fatonah
8)  Maimunah
9)  Maksun
10)  Nahrowi, dan
11)  Adnan.

Muhammad Hasyim, lahir pada hari Selasa Tanggal 24 Dzulqo’dah 1287 H, bertepatan dengan tanggal 14 Pebruari 1871 M. Masa dalam kandungan dan kelahiran KH. M. Hasyim Asy’ari, nampak adanya sebuah isyaroh yang menunjukkan kebesarannya. diantaranya, ketika dalam kandungan Nyai Halimah bermimpi melihat bulan purnama yang jatuh kedalam kandungannya, begitu pula ketika melahirkan Nyai Halimah tidak merasakan sakit seperti apa yang dirasakan wanita ketika melahirkan.

Di masa kecil beliau hidup bersama kakek dan neneknya di Desa Gedang, ini berlangsung selama enam tahun. Setelah itu beliau mengikuti kedua orang tuanya yang pindah ke Desa Keras terletak diselatan kota Jomabng dan di desa tersebut Kiai Asy’ari mendirikan pondok pesantren yang bernama Asy’ariyah. Principle of early learning (sulit tergantikan dari unsur-unsur asing), mungkin teori ini layak disandang oleh beliau, berdasarkan kehidupan beliau yang mendukung yaitu hidup dilingkungan pesantren, sehingga wajar kalau nilai-nilai pesantren sangat meresap pada dirinya, begitu pula nilai-nilai pesantren dapat dilihat bagimana ayahanda dan bundanya memberikan bimbingan kepada santri, dan bagaimana para santri hidup dengan sederhana penuh dengan keakraban dan saling membantu.

2.  Belajar Pada Keluarga
Perjalanan keluarga beliau pulalah yang memulai pertama kali belajar ilmu-ilmu agama baik dari kakek dan neneknya. Desa Keras membawa perubahan hidup yang pertama kali baginya, disini mula-mula ia menerima pelajaran agama yang luas dari ayahnya yang pada saat itu pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Asy’ariyah. Dengan modal kecerdasan yang dimiliki dan dorongan lingkungan yang kondusif, dalam usia yang cukup muda, beliau sudah dapat memahami ilmu-ilmu agama, baik bimbingan keluarga, guru, atau belajar secara autodidak. Ketidak puasannya terdahap apa yang sudah dipelajari, dan kehausan akan mutiara ilmu, membuatnya tidak cukup hanya belajar pada lingkungan keluarganya. Setelah sekitar sembilan tahun di Desa Keras (umur 15 tahun) yakni belajar pada keluarganya, beliau mulai melakukuan pengembaraanya menuntut ilmu.

3.  Mengembara ke Berbagai Pesantren
Dalam usia 15 tahun, perjalanan awal menuntut ilmu,Muhammad Hasyim belajar ke pondok-pondok pesantren yang masyhur di tanah Jawa, Khususnya Jawa Timur. Di antaranya adalah Pondok Pesantren Wonorejo di Jombang, Wonokoyo di Probolinggo, Tringgilis di Surabaya, dan Langitan di Tuban (sekarang diasuh oleh KH. Abdullah Faqih), kemudian Bangkalan, Madura, di bawah bimbingan Kiai Muhammad Khalil bin Abdul Latif (Syaikhuna Khalil).

Ada cerita yang cukup mengagumkan tatkala KH. M. HasyimAsy’ari “ngangsu kawruh” dengan Kiai Khalil. Suatu hari, beliau melihat Kiai Khalil bersedih, beliau memberanikan diri untuk bertanya. Kiai Khalil menjawab, bahwa cincin istrinya jatuh di WC, Kiai Hasyim lantas usul agar Kiai Khalil membeli cincin lagi. Namun, Kiai Khalil mengatakan bahwa cincin itu adalah cincin istrinya. Setelah melihat kesedihan diwajah guru besarnya itu, Kiai Hasyim menawarkan diri untuk mencari cincin tersebut didalam WC. Akhirnya, Kiai Hasyim benar-benar mencari cincin itu didalam WC, dengan penuh kesungguhan, kesabaran, dan keikhlasan, Akhirnya Kiai Hasyim menemukan cincin tersebut. Alangkah bahagianya Kiai Khalil atas keberhasilan Kiai Hasyim itu. Dari kejadian inilah Kiai Hasyim menjadi sangat dekat dengan Kiai Khalil, baik semasa menjadi santrinya maupun setelah kembali kemasyarakat untuk berjuang. Hal ini terbukti dengan pemberian tongkat saat Kiai Hasyim hendak mendirikan Jam’iyah Nahdlatul Ulama’ (NU) yang dibawa oleh KH. As’ad Syamsul Arifin (pengasuh Pondok Pesantren Syafi’iyah Situbondo).

Setelah sekitar lima tahun menuntut ilmu di tanah Madura (tepatnya pada tahun 1307 H/1891 M), Akhirnya beliau kembali ke tanah Jawa, belajar di pesantren Siwalan, Sono Sidoarjo, dibawah bimbingan KH. Ya’qub yang terkenal ilmu nahwu dan shorofnya. Selang beberapa lama, Kiai Ya’qub semakin mengenal dekat santri tersebut dan semakin menaruh minat untuk dijadikan menantunya.

Pada tahun 1303 H/1892 M., Kiai Hasyim yang saat itu baru berusia 21 tahun menikah dengan Nyai Nafisah, putri Kiai Ya’qub. Tidak lama setelah pernikahan tersebut, beliau kemudian pergi ke tanah suci Makkah untuk menunaikan ibadah haji bersama istri dan mertuanya. Disamping menunaikan ibadah haji, di Makkah beliau juga memperdalam ilmu pengetahuan yang telah dimilkinya, dan menyerap ilmu-ilmu baru yang diperlukan. Hampir seluruh disiplin ilmu agama dipelajarinya, terutama ilmu-ilmu yang berkaitan dengan hadits Rasulullah SAW yang menjadi kegemarannya sejak di tanah air.

Perjalanan hidup terkadang sulit diduga, gembira dan sedih datang silih berganti. Demikian juga yang dialami Kiai Hasyim Asy’ari di tanah suci Makkah. Setelah tujuh bulan bermukim di Makkah, beliau dikaruniai putra yang diberi nama Abdullah. Di tengah kegembiraan memperoleh buah hati itu, sang istri mengalami sakit parah dan kemudian meninggal dunia. empat puluh hari kemudian, putra beliau, Abdullah, juga menyusul sang ibu berpulang ke Rahmatullah. Kesedihan beliau yang saat itu sudah mulai dikenal sebagai seorang ulama, nyaris tak tertahankan. Satu-satunya penghibur hati beliau adalah melaksanakan thawaf dan ibadah-ibadah lainnya yang nyaris tak pernah berhenti dilakukannya. Disamping itu, beliau juga memiliki teman setia berupa kitab-kitab yang senantiasa dikaji setiap saat. Sampai Akhirnya, beliau meninggalkan tanah suci, kembali ke tanah air bersama mertuanya.

4.  Kematangan Ilmu di Tanah Suci
Kerinduan akan tanah suci rupanya memanggil beliau untuk kembali lagi pergi ke kota Makkah. Pada tahun 1309 H/1893 M, beliau berangkat kembali ke tanah suci bersama adik kandungnya yang bernama Anis. Kenangan indah dan sedih teringat kembali tatkala kaki beliau kembali menginjak tanah suci Makkah. Namun hal itu justru membangkitkan semangat baru untuk lebih menekuni ibadah dan mendalami ilmu pengetahuan. Tempat-tempat bersejarah dan mustajabah pun tak luput dikunjunginya, dengan berdoa untuk meraih cita-cita, seperti Padang Arafah, Gua Hira’, Maqam Ibrahim, dan tempat-tempat lainnya. Bahkan makam Rasulullah SAW di Madinah pun selalu menjadi tempat ziarah beliau. Ulama-ulama besar yang tersohor pada saat itu didatanginya untuk belajar sekaligus mengambil berkah, di antaranya adalah Syaikh Su’ab bin Abdurrahman, Syaikh Muhammad Mahfud Termas (dalam ilmu bahasa dan syariah), Sayyid Abbas Al-Maliki al-Hasani (dalam ilmu hadits), Syaikh. Nawawi Al-Bantani dan Syaikh Atib Al-Minang Kabawi (dalam segala bidang keilmuan).
Upaya yang melelahkan ini tidak sia-sia. Setelah sekian tahun berada di Makkah, beliau pulang ke tanah air dengan membawa ilmu agama yang nyaris lengkap, baik yang bersifat ma’qul maupun manqul, sebagai bekal untuk beramal dan mengajar di kampung halaman.

5.  Mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng
Sepulang dari tanah suci sekitar Tahun1313 H/1899 M, beliau memulai mengajar santri, beliau pertama kali mengajar di Pesantren Ngedang yang diasuh oleh mendiang kakeknya, sekaligus tempat dimana ia dilahirkan dan dibesarkan. Setelah itu beliau mengajar di Desa Muning Mojoroto Kediri. Disinilah beliau sempat menikahi salah seoarang putri Kiai Sholeh Banjar Melati. Akhirnya, karena berbagai hal, pernikahan tersebut tidak berjalan lama sehingga Kiai Hasyim kembali lagi ke Jombang.

Ketika telah berada di Jombang beliau berencana membangun sebuah pesantren yang dipilihnya, yaitu sebuah tempat di Dusun Tebuireng yang pada saat itu merupakan sarang kemaksiatan dan kekacauan. Pilihan itu tentu saja menuai tanda tanya besar dikalangan masyarakat, akan tetapi semua itu tidak dihiraukannaya. Nama Tebuireng pada asalnya Kebo ireng (kerbau hitam). Ceritanya, Di dearah tersebut ada seekor kerbau yang terbenam didalam Lumpur, dimana tempat itu banyak sekali lintahnya, ketika ditarik didarat, tubuh kerbau itu sudah berubah warna yang asalnya putih kemerah-merahan berubah menjadi kehitam-hitaman yang dipenuhi dengan lintah. Konon semenjak itulah daerah tadi dinamakan Keboireng yang Akhirnya berubah menjadi Tebuireng.

Pada tanggal 26 Robiul Awal 1317 H/1899 M, didirikanlah Pondok Pesantren Tebuireng, bersama rekan-rekan seperjuangnya, seperti Kiai Abas Buntet, Kiai Sholeh Benda Kereb, Kiai Syamsuri Wanan Tara, dan beberapa Kiai lainnya, segala kesuliatan dan ancaman pihak-pihak yang benci terhadap penyiaran pendidikan Islam di Tebuireng dapat diatasi.

KH. M. Hasyim Asya’ri memulai sebuah tradisi yang kemudian menjadi salah satu keistimewaan beliau yaitu menghatamkan kitab shakhihaini “Al-Bukhori dan Muslim” dilaksanakan pada setiap bulan suci ramadlan yang konon diikuti oleh ratusan kiai yang datang berbondong-bondong dari seluruh jawa. Tradisi ini berjalan hingga sampai sekarang (penggasuh PP. Tebuireng KH. M. Yusuf Hasyim). Pada awalnya santri Pondok Tebuireng yang pertama berjumlah 28 orang, kemudian bertambah hingga ratusan orang, bahkan diakhir hayatnya telah mencapai ribuan orang, alumnus-alumnus Pondok Tebuireng yang sukses menjadi ulama’ besar dan menjadi pejabat-pejabat tinggi negara, dan Tebuireng menjadi kiblat pondok pesantren.

6.  Mendirikan Nahdlatul Ulama’
Disamping aktif mengajar beliau juga aktif dalam berbagai kegiatan, baik yang bersifat lokal atau nasional. Pada tanggal 16 Sa’ban 1344 H/31 Januari 1926 M, di Jombang Jawa Timur didirikanlah Jam’iyah Nahdlatul Ulama’ (kebangkitan ulama) bersama KH. Bisri Syamsuri, KH. Wahab Hasbullah, dan ulama’-ulama’ besar lainnya, dengan azaz dan tujuannya: “Memegang dengan teguh pada salah satu dari madzhab empat yaitu Imam Muhammad bin Idris Asyafi’i, Imam Malik bin Anas, Imam Abu Hanifah An-Nu’am dan Ahmad bin Hambali. Dan juga mengerjakan apa saja yang menjadikan kemaslahatan agama Islam”. KH. Hasyim Asy’ari terpilih menjadi rois akbar NU, sebuah gelar sehingga kini tidak seorang pun menyandangnya. Beliau juga menyusun qanun asasi (peraturan dasar) NU yang mengembangkan faham ahli sunnah waljama’ah.

Nahdlatul ulama’ sebagai suatu ikatan ulama’ seluruh Indonesia dan mengajarkan berjihad untuk keyakinan dengan sistem berorganisasi. Memang tidak mudah untuk menyatukan ulama’ yang berbeda-beda dalam sudut pandangnya, tetapi bukan Kiai Hasyim kalau menyerah begitu saja, bahwa beliau melihat perjuangan yang dilakukan sendiri-sendiri akan lebih besar membuka kesempatan musuh untuk mengancurkannya, baik penjajah atau mereka yang ingin memadamkan sinar dan syi’ar Islam di Indonesia, untuk mengadudombanya antar sesama. Beliau sebagai orang yang tajam dan jauh pola pikirnya dalam hal ini, melihat bahaya yang akan dihadapkannya oleh umat Islam, dan oleh karena itu beliau berfikir mencari jalan keluarnya yaitu dengan membentuk sebuah organisasi dengan dasar-dasar yang dapat diterima oleh ulama’ulama lain.

Jam’iyah ini berpegang pada faham ahlu sunnah wal jama’ah, yang mengakomodir pada batas-batas tertentu pola bermadzhab, yang belakangan lebih condong pada manhaj dari pada sekedar qauli. Pada dasawarsa pertama NU berorentasi pada persoalan agama dan kemasyarakatan. Kegiatan diarahkan pada persoalan pendidikan, pengajian dan tabligh. Namun ketika memasuki dasawarsa kedua orentasi diperluas pada persoalan-persolan nasional. Hal tersebut terkait dengan keberadaannya sebagai anggota federasi Partai dan Perhimpunan Muslim Indonesia (MIAI) NU bahkan pada perjalanan sejarahnya pernah tampil sebagai salah satu partai polotik peserta pemilu, yang kemudian menyatu dengan PPP, peran NU dalam politik praktis ini kemudian dianulir dengan keputusan Muktamar Situbondo yang menghendaki NU sebagai organisasi sosial keagamaan kembali pada KH.ittahnya.

7.  Pejuang Kemerdekaan
Peran KH. M. Hasyim Asy’ari tidak hanya terbatas pada bidang keilmuan dan keagamaan, melainkan juga dalam bidang sosial dan kebangsaan, beliau terlibat secara aktif dalam perjuangan membebaskan bangsa dari penjajah belanda.
Pada tahun 1937 beliau didatangi pimpinan pemerintah belanda dengan memberikan bintang mas dan perak tanda kehormatan tetapi beliau menolaknya. Kemudian pada malam harinya beliau memberikan nasehat kepada santri-santrinya tentang kejadian tersebut dan menganalogikan dengan kejadian yang dialami Nabi Muhammad SAW yang ketika itu kaum Jahiliyah menawarinya dengan tiga hal, yaitu:
·      Kursi kedudukan yang tinggi dalam pemerintahan
·      Harta benda yang berlimpah-limpah
·      Gadis-gadis tercantik

Akan tetapi Nabi SAW menolaknya bahkan berkata: “Demi Allah, jika mereka kuasa meletakkan matahari ditangan kananku dan bulan ditangan kiriku dengan tujuan agar aku berhenti dalam berjuang, aku tidak akan mau menerimanya bahkan nyawa taruhannya”. Akhirnya KH. M. Hasyim Asy’ari mengaKH.iri nasehat kepada santri-santrinya untuk selalu mengikuti dan menjadikan tauladan dari perbuat Nabi Muhammad SAW.
Masa-masa revolusi fisik di Tahun 1940, memang merupakan kurun waktu terberat bagi beliau. Pada masa penjajahan Jepang, beliau sempat ditahan oleh pemerintah fasisme Jepang. Dalam tahanan itu beliau mengalami penyiksaan fisik sehingga salah satu jari tangan beliau menjadi cacat. Tetapi justru pada kurun waktu itulah beliau menorehkan lembaran dalam tinta emas pada lembaran perjuangan bangsa dan Negara republik Indonesia, yaitu dengan diserukan resolusi jihad yang beliau memfatwakan pada tanggal 22 Oktober 1945, di Surabaya yang lebih dikenal dengan hari pahlawan nasional.

Begitu pula masa penjajah Jepang, pada tahun 1942 Kiai Hasyim dipenjara (Jombang) dan dipindahkan penjara Mojokerto kemudian ditawan di Surabaya. Beliau dianggap sebagai penghalang pergerakan Jepang. Setelah Indonesia merdeka Pada tahun 1945 KH.M. Hasyim Asy’ari terpilih sebagai ketua umum dewan partai Majlis Syuro Muslimin Indonesia (MASYUMI) jabatan itu dipangkunya namun tetap mengajar di pesantren hingga beliau meninggal dunia pada tahun 1947.

8.  Keluarga Dan Sisilah
Hampir bersamaan dengan berdirinya Pondok Pesantren Tebuireng (1317 H/1899 M), KH. M. Hasyim Asya’ri menikah lagi dengan Nyai Nafiqoh putri Kiai Ilyas pengasuh Pondok Pesantren Sewulan Madiun. Dari perkawinan ini kiai hasyim dikaruniai 10 putra dan putri yaitu:
·      Hannah
·      Khoiriyah
·      Aisyah
·      Azzah
·      Abdul Wahid
·      Abdul hakim (Abdul Kholiq)
·      Abdul Karim
·      Ubaidillah
·      Mashurroh
·      Muhammad Yusuf.

Menjelang akhir Tahun 1930, KH. M. Hasyim Asya’ri menikah kembali dengan Nyai Masruroh, putri Kiai Hasan, pengasuh Pondok Pesantren Kapurejo, Kecamatan Pagu Kediri, dari pernikahan tersebut, beliua dikarunia 4 orang putra-putri yaitu:
1)  Abdul Qodir
2)  Fatimah
3)  Chotijah
4)  Muhammad Ya’kub
9.  Garis keturunan KH. M. Hasyim Asy’ari (Nenek ke-sembilan)

Muhammad Hasyim bin Asy’ari bin Abdul Wahid (Pangeran Sambo) bin Abdul Halim (Pangeran Benowo) bin Abdul Rahman (Mas Karebet/Jaka Tingkir) yang kemudian bergelar Sultan Hadiwijaya bin Abdullah (Lembu Peteng) yang bergelar Brawijaya VI.

10.  Wafatnya Sang Tokoh
Pada Tanggal 7 Ramadhan 1366 M. jam 9 malam, beliau setelah mengimami Shalat Tarawih, sebagaimana biasanya duduk di kursi untuk memberikan pengajian kepada ibu-ibu muslimat. Tak lama kemudian, tiba-tiba datanglah seorang tamu utusan Jenderal Sudirman dan Bung Tomo. Sang Kiai menemui utusan tersebut dengan didampingi Kiai Ghufron, kemudian tamu itu menyampaikan pesan berupa surat. Entah apa isi surat itu, yang jelas Kiai Hasyim meminta waktu semalam untuk berfikir dan jawabannya akan diberikan keesokan harinya.
Namun kemudian, Kiai Ghufron melaporkan situasi pertempuran dan kondisi pejuang yang semakin tersudut, serta korban rakyat sipil yang kian meningkat. Mendengar laporan itu, Kiai Hasyim berkata, “Masya Allah, Masya Allah…” kemudian beliau memegang kepalanya dan ditafsirkan oleh Kiai Ghufron bahwa beliau sedang mengantuk. Sehingga para tamu pamit keluar.

Akan tetapi, beliau tidak menjawab, sehingga Kiai Ghufron mendekat dan kemudian meminta kedua tamu tersebut untuk meninggalkan tempat, sedangkan dia sendiri tetap berada di samping Kiai Hasyim Asy’ari. Tak lama kemudian, Kiai Ghufron baru menyadari bahwa Kiai Hasyim tidak sadarkan diri. Sehingga dengan tergopoh-gopoh, ia memanggil keluarga dan membujurkan tubuh Kiai Hasyim. Pada saat itu, putra-putri beliau tidak berada di tempat, misalnya Kiai Yusuf Hasyim yang pada saat itu sedang berada di markas tentara pejuang, walaupun kemudian dapat hadir dan dokter didatangkan (Dokter Angka Nitisastro).

Tak lama kemudian baru diketahui bahwa Kiai Hasyim terkena pendarahan otak. Walaupun dokter telah berusaha mengurangi penyakitnya, namun Tuhan berkehendak lain pada kekasihnya itu. KH. M. Hasyim Asy’ari wafat pada pukul 03.00 pagi, Tanggal 25 Juli 1947, bertepatan dengan Tanggal 07 Ramadhan 1366 H. Inna LiLlahi wa Inna Ilaihi Raji’un.

Kepergian beliau ketempat peristirahatan terakhir, diantarkan bela sungkawa yang amat dalam dari hampir seluruh lapisan masyarakat, terutama dari para pejabat sipil maupun militer, kawan seperjuangan, para ulama, warga NU, dan Khususnya para santri Tebuireng. Umat Islam telah kehilangan pemimpin besarnya yang kini berbaring di pusara beliau di tenggah Pesantrn Tebuireng. Pada saat mengantar kepergianya, sahahabat dan saudara beliau, KH. Wahab hazbulloh, sempat mengemukakan kata sambutan yang pada intinya menjelaskan prinsip hidup beliau, yakni, “berjuang terus dengan tiada mengenal surut, dan kalau perlu zonder istirahat”.

11.  Karya Kitab Klasik
Peninggalan lain yang sangat berharga adalah sejumlah kitab yang beliau tulis disela-sela kehidupan beliau didalam mendidik santri, mengayomi ribuan umat, membela dan memperjuangkan bumi pertiwi dari penjajahan. Ini merupakan bukti riil dari sikap dan perilakunya, pemikiranya dapat dilacak dalam beberapa karyanya yang rata-rata berbahasa Arab.

Tetapi sangat disayangkan, karena kurang lengkapnya dokumentasi, kitab-kitab yang sangat berharga itu lenyap tak tentu rimbanya. Sebenarnya, kitab yang beliau tulis tidak kurang dari dua puluhan judul. Namun yang bisa diselamatkan hanya beberapa judul saja, diantaranya:
1. Al-Nurul Mubin Fi Mahabati Sayyidi Mursalin. Kajian kewajiban beriman, mentaati, mentauladani, berlaku ikhlas, mencinatai Nabi SAW sekaligus sejarah hidupnya.
2. Al-Tanbihat al-Wajibat Liman Yashna’u al-Maulida Bi al-Munkarat. Kajian mengenai maulid nabi dalam kaitannya dengan amar ma’ruf nahi mungkar.
3. Risalah Ahli Sunnah Wal Jama’ah. Kajian mengenai pandangan terhadap bid’ah, Konsisi salah satu madzhab, dan pecahnya umat menjadi 73 golongan
4. Al-Durasul Muntasyiroh Fi Masail Tis’a ‘asyaraoh. Kajian tentang wali dan thoriqoh yang terangkum dalam sembilan belas permasalahan.
5. Al-Tibyan Fi Nahyi’an Muqatha’ah al-Arham Wa al-Aqrab Wa al-Akhwal. Kajian tentang pentingnya jalinan silaturahmi antar sesama manusia
6. Adabul ‘Alim Wa Muata’alim. Pandangan tentang etika belajar dan mengajar didalam pendidikan pesantrren pada khususnya
7. Dlau’ al-Misbah Fi Bayani Ahkami Nikah. Kajian hukum-hukum nikah, syarat, rukun, dan hak-hak dalam perkawinan
8. Ziyadah Ta’liqot. Kitab yang berisikan polemic beliau dengan Syaikh. Abdullah bin yasir Pasuruan.



Sumber : Buku Mapel Aswaja SMP/MTs, SMA/MA dan berbagai sumber
comments | | Baca Selengkapnya...
*********
If you want to test someone’s character, give him respect. If he has good character, he will respect you more. If he has bad character, he will think is the best of all.
------------
Jika kamu ingin menguji karakter seseorang, hormati dia. Jika dia memiliki akhlak yang baik, maka dia akan lebih menghormatimu. Jika dia memiliki akhlak yang buruk, dia akan merasa dirinya yang paling baik.
BTCClicks.com Banner

BISNIS GRATIS

Statistik

 
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger